Resor ini mengampu kawasan seluas 985,81 Ha. Termasuk di dalamnya Gerbang Sri Manganti, di mana prosesi selamatan tahunan Keraton Yogyakarta, Labuhan, bermuara. Di kawasan ini pula, sang juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, berpulang dalam rengkuhan awan panas erupsi merapi 2010.
Demi mengamankan lingkungan hutan yang rawan longsor dan terbakar, serta mencegah terjadinya pendakian liar di bekas jalur yang telah tertutup material vulkanik, resor yang berkantor di Dusun Gambretan, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman ini sehari-hari dijalankan oleh 8 personel (2 polisi hutan, 1 Penyuluh, 2 Pengendali Ekosistem Hutan, 1 Pengolah Datin dan 2 Manggala Agni).
Menanggapi geliat wisata yang diinisiasi penduduk setempat pasca-erupsi 2010, Resor Cangkringan—berbatasan dengan Desa Kepuharjo, Glagaharjo, dan Umbulharjo—juga melakukan pendampingan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kali Kuning Park dan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan wisata alam di kawasan Kalikuning, Kelompok Wisata di aklitengah Lor (Kaltari) dan FPL Palem yang merupakan kelompok pemerhati Tanaman Hutan Merapi. Sedangkan upaya pemulihan hutan yang terdampak erupsi dititikberatkan di Kalikuning dan Klangon.
Obyek Wisata Alam Plunyon kini menjadi salah satu destinasi wisata alam yang sedang naik daun di kawasan Sleman, D.I.Yogyakarta. Selain suasananya sejuk, juga dikelilingi hutan hijau dengan panorama Gunung Merapi yang gagah di kejauhan. Daya tarik utamanya adalah jembatan ikonik yang membentang di tengah alam, menghadirkan nuansa dramatis sekaligus romantis bagi siapa saja yang melintas. Jembatan ini semakin terkenal setelah digunakan sebagai lokasi pengambilan adegan dalam sebuah film populer. Efeknya luar biasa, banyak wisatawan penasaran ingin merasakan langsung atmosfer yang pernah muncul di layar lebar. Kehadiran film tersebut memberi dampak positif, menjadikan Plunyon bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga spot foto yang instagramable dan penuh cerita.

