Laporan Kinerja Balai Taman Nasional Gunung Merapi Tahun 2025

( Balai Taman Nasional Gunung Merapi mencatat berbagai capaian penting sepanjang 2025, mulai dari pengelolaan kawasan yang efektif, perlindungan ekosistem, pemberdayaan masyarakat, hingga peningkatan pendapatan wisata alam. Di tengah tantangan anggaran dan dinamika organisasi, BTNGM menunjukkan komitmen kuat menjaga kelestarian Merapi sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. )

Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menutup tahun 2025 dengan sederet capaian penting dalam pengelolaan kawasan konservasi, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan tata kelola pemerintahan. Tahun ini menjadi momentum strategis karena menandai awal pelaksanaan Renstra KSDAE 2025–2029 sekaligus bagian dari perjalanan menuju visi Indonesia Emas 2045.

Dengan total anggaran sekitar Rp16,95 miliar, BTNGM menjalankan dua program utama, yakni pengelolaan hutan berkelanjutan dan dukungan manajemen. Meski menghadapi lima kali perubahan pagu serta sembilan revisi anggaran, pelaksanaan program tetap berjalan efektif. Dinamika tersebut dipengaruhi kebijakan efisiensi nasional serta perubahan struktur kepegawaian, termasuk penambahan 24 pegawai PPPK.

Di tengah tantangan tersebut, BTNGM berhasil menjaga stabilitas kinerja melalui pengelolaan anggaran yang adaptif dan terukur. Pendekatan ini membuat pelaksanaan program tetap efisien sekaligus akuntabel.

Salah satu capaian paling menonjol adalah keberhasilan BTNGM memperoleh skor 96 poin dalam penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) 4.0. Nilai ini menempatkan pengelolaan Taman Nasional Gunung Merapi dalam kategori efektif dan memenuhi standar internasional pengelolaan kawasan konservasi.

Keberhasilan itu didukung sistem perlindungan kawasan yang terintegrasi. Patroli rutin dilakukan di tujuh Resort Perlindungan Taman Nasional, disertai pemanfaatan teknologi SMART Monitoring untuk memantau ancaman di lapangan. Total kawasan yang berhasil dijaga mencapai lebih dari 6.600 hektar, mencerminkan komitmen kuat terhadap perlindungan ekosistem dari ancaman perambahan, penebangan liar, hingga perburuan.

Dalam pengendalian kebakaran hutan, BTNGM juga mencatat hasil positif. Upaya patroli pencegahan dan edukasi masyarakat berhasil mengendalikan area rawan kebakaran seluas 690,5 hektar. Sepanjang tahun hanya terjadi satu insiden kebakaran kecil di wilayah Selo. Pendekatan kolaboratif bersama masyarakat desa, kelompok peduli api, dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam keberhasilan tersebut.

Tidak hanya fokus pada perlindungan kawasan, BTNGM juga memperkuat pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Tahun 2025, tiga kelompok masyarakat berhasil dibina melalui program konservasi berbasis pemberdayaan ekonomi. Program ini mendorong peningkatan kesadaran konservasi sekaligus membuka peluang usaha berkelanjutan seperti ekowisata dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

Sektor wisata alam juga menunjukkan perkembangan signifikan. Enam objek wisata alam di kawasan TNGM berhasil menarik lebih dari 354 ribu wisatawan domestik dan ratusan wisatawan mancanegara. Dari sektor ini, BTNGM memperoleh Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp3,82 miliar atau mencapai 411 persen dari target yang ditetapkan.

Capaian lain terlihat pada program pemulihan ekosistem. BTNGM berhasil merehabilitasi 23 hektar lahan terdegradasi, melampaui target awal sebesar 20 hektar. Kegiatan ini dilakukan melalui pembangunan persemaian, pemantauan suksesi alami, dan restorasi di berbagai zona habitat sekitar Merapi.

Dalam bidang konservasi spesies, BTNGM menjalankan perlindungan sarang Elang Jawa, konservasi tumbuhan endemik Merapi, serta mitigasi konflik satwa liar. Selain itu, tahun 2025 juga menghasilkan dua produk bioprospeksi berbasis sumber daya genetik Merapi, yaitu produk antiaging dan antikolesterol. Langkah ini menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi berkelanjutan.

Meski banyak capaian positif, BTNGM masih menghadapi sejumlah tantangan. Penurunan nilai SAKIP dari 86,05 menjadi 76,80 poin menunjukkan perlunya penguatan sistem akuntabilitas kinerja. Selain itu, fleksibilitas anggaran, sinkronisasi jadwal kegiatan, dan optimalisasi teknologi monitoring masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, BTNGM menyiapkan sejumlah strategi ke depan, mulai dari penguatan manajemen berbasis data, peningkatan kapasitas SDM, pengembangan pendanaan alternatif, hingga perluasan program pemberdayaan masyarakat.

Secara keseluruhan, kinerja BTNGM tahun 2025 menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya tentang menjaga hutan, tetapi juga membangun keseimbangan antara perlindungan alam, kesejahteraan masyarakat, dan tata kelola pemerintahan yang modern. Di tengah tekanan perubahan lingkungan dan dinamika pembangunan, Gunung Merapi terus dijaga sebagai ruang hidup yang lestari bagi generasi mendatang.

Penulis

Balai Taman Nasional Gunung Merapi

ISBN

Tahun Terbit

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest